Sugeng Rawuh | Wilujeng Sumping | Selamet Dheteng | Rahajeng Rauh | Salamaik Datang | Horas | Mejuah-Juah | Nakavamo | Slamate Iyoma| Slamate Illai | Pulih Rawuh | Maimo Lubat |

Masjid Agung Sang Cipta Rasa


Dari Keraton Kasepuhan menuju Pasuketan melewati depan Masjid Agung Sang Cipta Rasa, ada perempatan luruuuuuuuuuuuuuuuuuuus aja, mentok kemudian belok kanan, sudah sampai Pasuketan. Tapi sebelum itu kami akan cerita sedikit tentang Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Sebentar, kami belum bercerita tentang Check point kami. Khusus Cirebon ini, kami ingin makan nasi Lengko (huruf “e” nya dibaca seperti “e” pada kata “merah”). Makanan ini adalah salah satu makanan khas Cirebon. Di depan Masjid Sang Cipta Rasa ini ada penjual nasi Lengko itu, kamipun tanpa pikir panjang untuk membelinya. Tahukah kawan apa substansi dari nasi Lengko itu? Cukup sederhana si, nasi putih biasa (tapi konon dimasak lebih keras lebih enak, artinya tidak terlalu lembek, orang Jawa bilangnya agak Lekas) kemudian diberi irisan tempe dipotong dadu kecil-kecil, plus mentimun yang dipotong dadu kecil-kecil juga, ada potongan toge nya juga (eh ada ga ya, ehmmm seingatnya ada) dan disiram dengan bumbu kacang seperti pecel tapi tidak pedas. Lebih lengkap di kasi kecap. Cukup ceritanya, jadi pengen makan nanti, kembali ke Masjid Sang Cipta Rasa.



Nama Masjid ini diambil dari kata “sang” yang bermakna keagungan, “cipta” yang berarti dibangun dan “rasa” yang berarti digunakan. Masjid ini dikenal juga dengan sebutan Masjid Agung Kasepuhan. Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini dibangun setelah Masjid Demak, sekitar tahun 1489 (mengenai tahunnya masih simpang siur, ada yang bilang tahun 1489, ada yang bilang 1478, ada juga yang bilang 1480, kamipun hanya mengutip sehingga tidak tahu pasti sumber dari kutipan kami manakah yang mendekati kevalidan). Salah satu versi adalah menurut catatan Keraton kasepuhan, yang mengacu pada candrasengkala, masjid tersebut dibangun pada waspada panembahe yuganing ratu. Kalimat ini bermakna 2241, alias 1422 Saka, jika dikonversikan menjadi 1500 masehi. Menurut Kretabhumi, masjid ini dibangun pada 1489 masehi dengan kontraktornya adalah Sunan Kali Jaga. Tapi, selisih dari masing-masing perbedaan tahun tersebut tidak terlalu jauh si, jadi gimana kalau kita bikin sekitar tahun 1480an. (bisa kurang dari 80, bisa lebih dari 80, wah kayaknya ga cocok jadi sejarawan neh…^^).
Ada yang mengatakan masjid ini adalah pasangan dari Masjid Demak. (pasangan?), yak, maksudnya adalah, ketika Masjid Demak selesai dibuat, Sunan Gunung Jati meminta ijin untuk membuat pasangannya di Cirebon, maka dibuatlah Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini. Jika Masjid Demak berkarakter maskulin, masjid ini berkarakter feminim. Mitosnya, pembangunan masjid ini hanya berlangsung semalam, karena paginya sudah dipakai Sholat Subuh. Sunan Kalijaga yang bertindak sebagai penanggungjawab meminta kepada Raden Sepat membuat gambar dan ruang-ruang masjid. Raden Sepat merancang ruang utama masjid berbentuk bujur sangkar dengan luas 400 meter2 dengan kemiringan 30 derajat arah barat laut. Keunikan masjid ini adalah tidak memiliki menara dan kubah (mungkin untuk menunjukkan corak feminimnya…).
Tidak adanya menara karena pada saat itu, ketika muazin akan mengumandangkan adzan, mau tak mau harus naik ke menara, sedangkan dalam adat Jawa sangat tabu ketika orang biasa berada di atas kepala Raja. Sedangkan mengenai tidak adanya kubah, ada beberapa mitos. Dulu, sebetulnya masjid ini memiliki kubah, namun pada masa Panembahan Ratu I, Cirebon dilanda wabah penyakit ganas, sehingga Panembahan Ratu melemparkan tongkat saktinya yang tak sengaja mengenai kubah masjid sampai hancur, sehingga sampai sekarang tidak memiliki kubah. Versi lain mengatakan, pada saat pendirian masjid ini, ada utusan Mataram yang menyebarkan mantra di atas kubah masjid yang mengakibatkan tiga orang muazin meninggal. Sampai akhirnya Sunan Kali Jaga memerintahkan kepada tujuah orang muazin untuk mengumandangkan azan secara bersamaan pada saat sebelum Sholat Subuh. Akhirnya mantra tersebut terlepas dan terdengar bunyi ledakan yang mengakibatkan kubah masjid terlempar jauh, konon sampai ke Masjid Agung Banten, sehingga Masjid Agung Sang Cipta Rasa tidak memiliki kubah, sedangkan Masjid Agung Banten memiliki dua buah kubah. Manakah yang benar? Hanya Tuhan dan orang yang ada pada saat itu yang tahu..^^. Tradisi azan bersamaan 7 orang ini dikenal dengan istilah azan pitu, dan sampai sekarang masih dilakukan, kalau dahulu setiap sholat lima waktu, sekarang hanya pada saat Sholat Jum’at saja. Dilanjutkan dengan tradisi khotbah yang selalu menggunakan bahasa Arab (oops, kira-kira ngerti ga ya jamaahnya…?).
Masjid ini memiliki lima ruang, 1 ruang utama, 3 serambi dan 1 ruang belakang. Ruang utama dikelilingi oleh dinding bata setebal setengah meter dan memiliki sembilan pintu. Sembilan pintu tersebut melambangkan Wali Songo. Pintu utama berukuran normal, delapan lainnya memiliki tinggi hanya sekitar 1 meter. Pintu ini akan memaksa orang untuk membungkuk ketika melewatinya sebagai simbol dari sifat rendah hati, sopan dan hormat menghormati. Masjid ini memiliki aristek perpaduan budaya Jawa dan Hindu, atap masjid yang berbentuk joglo mencerminkan rumah-rumah suku Jawa pada umumnya, sedangkan pagar dan pintu gerbang utamanya mengadopsi bentuk-bentuk candi yang memiliki budaya Hindu.

Di bagian samping kanan masjid (kurang tau kalau disamping kirinya) ada semacam sumur yang setelah kami amati banyak orang mengambil airnya, konon air tersebut bertuah, masyarakat menyebutnya dengan banyu cis. Yang kami herankan, dalam masjid yang sangat tidak mentolerir adanya upaya-upaya mempercaya kekuatan lain selain berasal dari Tuhan memperkenankan dan tetap memelihara tradisi yang tidak ada dalam tata cara ibadah Islam tersebut. Tapi, yasudahlah, itu adalah anggapan kami yang masih muda dan belum tahu banyak tentang segala sesuatunya. Masjid luar biasa ini memiliki nasib seperti keraton Kanoman yang mulai ditinggalkan, padahal, sebelum meninggal, Sunan Gunung Jati berpesan, “Ingsun titip tajug lan fakir miskin” yang artinya saya titip surau ini dan fakir miskin. Suraunya kurang dirawat, tapi fakir miskinnya makin banyak. Masyarakat telah salah menafsirkan pesan Sunan Gunung Jati tersebut, merawat fakir miskin tidak dengan menyantuni, tapi dengan memberikan bekal kepada mereka supaya dapat meninggalkan kefakiran mereka, karena kefakiran sangat dekat dengan kekufuran.
Inilah sedikit tentang Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini, beberapa bagian kami kutip dari tulisan rekan sesama blogger, hatur nuhun kang. (blesak.wordpress.com).

Indonesia Barat