Sugeng Rawuh | Wilujeng Sumping | Selamet Dheteng | Rahajeng Rauh | Salamaik Datang | Horas | Mejuah-Juah | Nakavamo | Slamate Iyoma| Slamate Illai | Pulih Rawuh | Maimo Lubat |

Villa Isola (dan misterinya ^^)

Dari Dago bingung neh mau kmana,, ada ide-ada ide? Aha..kami menemukan satu tempat yang layak diceritakan karena memang layak untuk diceritakan...:) selain itu, tempat ini sering kami pergunakan untuk menyusun rencana (yang tidak jahat) ataupun sekedar untuk duduk-duduk menyalurkan hobi bermain di kampus orang...^^. Hah? Kampus? Ya, kali ini kami akan menceritakan salah satu gedung yang kebetulan sekarang sudah menjadi bagian dari salah satu kampus negeri di Bandung, kampus itu bernama UPI, yang sering diplesetkan, katanya Universitas Padahal IKIP...yang akan kami ceritakan disini bukan UPInya, tapi salah satu bangunan di dalam UPI yang berjudul Villa Isola.
Dari Dago, bagaimanakah kesananya? Pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan, karena dengan sendirinya akan kami ceritakan...^^ Jika kita rewind sebentar (macam kaset) sebelum kita turun di perempatan Sulanjana (lihat lagi episode Kawasan Dago) kita tentukan pilihan, akan ke Dago atau ke Villa Isola, jika ke Dago turunlah di perempatan Sulanjana itu, jika mau ke Villa Isola tidak perlu turun, kita harus tetap berada di dalam angkot dengan rute Cicaheum-Ledeng itu. (helloooow kita kan nanyanya dari Dago, bukan dari Museum Geologi atau Museum POS).
Nah, sebaiknya pertanyaannya diubah, karena perempatan Sulanjana kan Dago juga? :p, baiklah, pertanyaannya kami ubah, kalau dari Simpang Dago bagaimana caranya ke Villa Isola? Akan kami jawab. Dari Simpang Dago berjalanlah sedikit menyusuri Jalan Sumur Bandung menuju ke arah ITB pintu arah Sabuga (entah pintu apa itu namanya). Kurang lebih 200 meter an akan sampai ke sebuah jalan yang banyak cabangnya (bukan cabang sebenarnya), hanyalah sebuah jalan yang bisa belok kiri, bisa belok kanan dan bisa lurus. Kalau belok kiri ke arah Jalan Dayang Sumbi, kalau lurus ke arah Taman Sari (kebun binatang) sedangkan kalau belok kanan ke arah Siliwangi. Kita kemana? Kita lihat dulu, adakah angkot jurusan Cicaheum-Ledeng mangkal disitu? Karena ini adalah salah satu spot kegemaran tukang angkot Cicaheum-Ledeng untuk mangkal. Jika ada tanyalah sopirnya, ke Ledeng ga itu? Atau jangan-jangan Cuma iseng pengen nongkrong disitu aja :p jika iyya, naiklah.
Bagaimana jika tidak ada angkot yang mangkal hayo? Baiklah mari kita analisis...^^ jalur ini dilewati empat macam angkot, yang searah dengan kedatangan kita ada angkot Cicaheum-Ciroyom (berwarna hijau berwujud kijang), Cicaheum-Ledeng (ke arah Cicaheum berwarna hijau berwujud kadang carry kadang kijang), Caringin-Dago (berwarna biru berwujud carry) dan satunya Cisitu-Tegal Lega (berwarna ungu berwujud carry), saran kami, jangan naik semuanya, karena kalian akan tersesat dibuatnya ^^. Naiklah yang Cicaheum-Ledeng ke arah Ledeng, itu saja, titik. Apapun bujuk rayu tukang angkot lainnya, abaikan saja...:p
Lamanya waktu perjalanan, 30menitan tergantung kondisi jalan dan kondisi psikologis tukang angkotnya. Kalau moodnya baik kalian akan cepat sampai, kalau moodnya kurang baik, bersabarlah untuk ngetem sana dan ngetem sini. Estimasi jarak dari Simpang Dago, 6km, dan estimasi biaya Rp. 2.500 (tidak tergantung kemampuan kalian berlari ^^).
Turunnya dimana? Mau nunggu sampai angkot berhenti boleh, tapi mau berhenti di pintu masuk UPI sebelah selatan juga boleh. Intinya turun UPI, kalaulah kawan-kawan ketiduran, turun terminal Ledeng juga boleh, trus jalan dikit turun lewat pintu UPI sebelah utara. Barulah kita bercerita tentang apakah gerangan Villa Isola itu?
Kami kutip dari beberapa sumber, khususnya dari blog djawatempodoeloe.multiply.com milik kang Priyambodo Prayitno, hatur nuhun kang untuk informasi dan minjem koleksi fotonya, tidak ada maksud lain selain pengetahuan buat kita semua, saya kasi watermarknya blog kang Pri juga sebagai wujud tanggungjawab kami...
Soal kebenaran ceritanya, hanya Tuhan dan orang-orang tertentu saja yang tau.
Villa atau tempat istirahatan ini dibangun pada tahun 1932 dan tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya, dibangun pada Oktober 1932 dan selesai Maret 1933 (kurang dari 6 bulan). Si pemilik adalah seorang konglomerat eksentrik bernama Dominique Willem Berretty, seorang pria keturunan Italia – Jawa, sedangkan si perancang bangunan ini adalah arsitek Hindia Belanda yang ternama, CP. Wolff Schoemaker (arsitek gedung Concordia). Bangunan ini terletak di Jalan Setiabudi, kiri jalan dari arah Bandung menuju Lembang. Villa ini dibangun menyendiri ditengah sawah atau apa itu tepatnya, kebun atau apa, dimana di kanan kirinya masih belum terdapat banyak bangunan, hanya dia seorang bangunan megah pada waktu itu di situ. Diberi nama Villa Isola oleh pemiliknya yang berarti villa terisolasi atau villa terpencil, sangat tepat dengan kondisi lingkungan sekitarnya, dan konon sesuai dengan jalan hidup sang pemilik, M’Isolo e Vivo (saya mengasingkan diri dan bertahan hidup).
Si pemilik, Berrety, adalah bos media yang mengawali karirnya di surat kabar Java Bode dan mulai merintis usaha jasa telegraf tahun 1917 dengan modal pinjaman. Nasib mulai berpihak samanya ketika ia mendirikan agen press ANETA (Algemeen Nieuws en Telegraaf Agentschap) di Batavia. Kantornya memonopoli pengadaan berita tentang Hindia Belanda yang secara otomatis membuatnya menjadi banyak uang dan terkenal, dan berbanding lurus dengan bisnis monopolinya itu, Berrety memiliki banyak musuh, baik dari kalangan jurnalis, politisi, sampai orang nomor satu di Hindia Belanda, yaitu BC. De Jonge, sang Gubernur Jenderal. Dan sialnya, Berrety menjalin hubungan dengan salah satu anak De Jonge yang membuat sang Gubernur Jenderal makin tidak suka dengan Berrety. Konon Berrety menikah sebanyak 6 kali dan dua diantaranya melahirkan 3 orang anak. 6 perempuan tersebut tidak termasuk anak Gubernur Jenderal De Jonge.
Villa Isola
Pada awal tahun 1930an, hampir seluruh dunia mengalami krisis ekonomi global, namun Berrety justru membangun sebuah bangunan prestisius sebagai tempat tinggalnya. Bangunan yang berharga 500.000 gulden (sekitar Rp 250 Milyar kurs sekarang, bandingkan dengan Gedung Sate yang berharga 6 juta gulden, sekitar 3 Trilyun kayaknya, tweweweweweweeweweng). Jika dihubungkan dengan kondisi saat itu, sebuah konspirasi menyebutkan, bahwa salah satu sumber pendapatan Berrety selain memonopoli telegraf Hindia Belanda adalah menjadi sumber dan komunikasi dengan dinas rahasia Jepang awal tahun 1930an sebelum Jepang masuk menjajah Indonesia.
Villa Isola selesai dibangun 1933, namun tragis bagi pemiliknya, pada 20 Desember 1934, Pesawat Uiver (pesawat milik KLM, yang menjadi simbol kebanggaan Belanda karena berhasil memenangkan perlombaan udara London – Melbourne pada Oktober 1934) yang mengangkut 350 kg surat, 4 orang awak dan 3 penumpang, termasuk Berrety, jatuh di Siria, perbatasan Irak dalam penerbangan reguler dari Amsterdam menuju Batavia. Penyebab kecelakaan menurut versi resmi pemerintah Belanda adalah, mesin pesawat lumpuh akibat diterjang kilat yang menewaskan semua awak dan penumpangnya, namun pesawat masih bisa terbang tanpa pilot dan jatuh kemudian terbakar di Siria, perbatasan Irak.
Konspirasi yang beredar pada waktu itu, alasan pemerintah Belanda tentang penyebab jatuhnya pesawat ditutup-tutupi. Jatuhnya pesawat yang telah berjasa mengangkat martabat Belanda dalam perlombaan udara tersebut diduga disengaja untuk menyingkirkan Berrety. Sepenting itukah Berrety? Mungkin iyya, mungkin tidak, atau mungkin ada masalah pribadi. Dan hestek (jiaaaaaa hestek) yang santer pada waktu itu, dalang dari jatuhnya pesawat itu, tak lain tak bukan adalah sang Gubernur Jenderal sendiri. Sebelum menjadi Gubernur Jenderal, De Jonge adalah Menteri Perang Belanda dan pernah menjabat sebagai General Manager di satu perusahaan minyak di London, selain itu, De Jonge memiliki kontak dan hubungan dekat dengan petinggi militer di Inggris. Saksi mata menyatakan, melihat pesawat tempur terbang sesaat sebelum jatuhnya pesawat Uiver tersebut di dekat kilang minyak Rutba di Irak, dan kilang minyak Rutba tersebut merupakan basis militer Inggris. Konspirasinya, pesawat Uiver tersebut ditembak jatuh oleh pesawat tempur RAF, Inggris atas perintah De Jonge.
Kecurigaan semakin bertambah ketika diketahui, bahwa misi resmi dari penerbangan Uiver tersebut adalah membawa surat dari Eropa ke Jawa sebelum Natal 1934. Namun karena pesawat tersebut dijadwalkan datang di Batavia pada 22 Desember 1934 (1 hari sebelum akhir pekan), dan pada waktu itu, tidak ada kereta pos yang bekerja pada akhir pekan, mungkinkan misi itu ada? Konspirasi biarlah tetap menjadi konspirasi, dan rahasia biarlah turut berada terbawa oleh orang-orang yang menyimpannya. Biarlah itu menjadi menarik dan terus menjadi tanda tanya bagi orang yang membahasnya....^^ yang bukan rahasia adalah, Berrety dimakamkan di pemakaman Inggris, di Baghdad, Irak, pada tanggal 22 Desember 1934 dalam usia 44 tahun.
Bagaimana nasib Villa Isola? Villa ini dibeli oleh Savoy Homann untuk menjadi bagian dari hotel tersebut. Pada masa kemerdekaan, bangunan ini menjadi markas tentara Jepang dan pernah menjadi markas tentara pejuang kemerdekaan. Pada tanggal 20 Oktober 1954, gedung ini diserahkan oleh Perdana Menteri Ali Sastroamidjodjo kepada Menteri Pendidikan Muhammad Yamin sebagai gedung utama Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG), dan peristiwa ini menandai berdirinya PTPG. PTPG kemudian berangsur-angsur berkembang dan berubah menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dari Universitas Padjadjaran (1958), kemudian menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung (IKIP Bandung, 1963) sampai akhirnya sekarang menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI, 1999).
Nampak Belakang
Seperti apa bentuk bangunan itu sekarang? Tidak ada yang berubah secara fisik, hanya saja, namanya sekarang berubah menjadi Bumi Siliwangi. Gedung ini seperti halnya gedung di Jawa pada umumya, berorientasi kosmik, Utara – Selatan, ditambah dengan taman memanjang tegak lurus ke arah Tangkuban Prahu. Awalnya gedung ini memiliki tiga lantai, namun kemudian lantai ke empat dibangun untuk memenuhi kebutuhan sebagai gedung utama kantor PTPG. Bangunan ini memiliki kecenderungan horisontal dan vertikal seperti halnya yang ada pada candi-candi Jawa yang terpengaruh ajaran Hindu dan Budha. Di dalam arsitek candi maupun bangunan tradisional, keindahan ornamen garis-garis akan lebih terlihat dengan adanya efek bayangan matahari yang merupakan kecerdasan arsitek dalam memanfaatkan matahari untuk mendukung keindahan hasil karyanya.
Lorong Taman Cinta
Di sekitar bangunan ini terdapat taman yang menegaskan kondisi keuangan pemiliknya waktu membuatnya. Halaman depan dan belakang seluas itu dijadikan taman oleh Berrety, taman yang tidak hanya berisi tanaman tapi juga kolam untuk menyegarkan orang yang melihatnya. Dan kini untuk menyegarkan orang yang berada disekitarnya, bukan untuk diminum airnya, bukan pula karena melihat orang yang renang, melainkan disekitar kolam tersebut telah tumbuh rindang pohon yang ditanam oleh Menteri Pendidikan, Muh Yamin pada saat meresmikan berdirinya PTPG tahun 1954 yang lalu. Baik di sisi selatan maupun utara gedung ini terdapat taman yang menarik, di sisi selatan banyak ditanami pohon yang rindang dengan tetap membiarkan halaman depan Villa Isola kosong seperti sedia kala. Sedangkan sisi utara, tempat ditanamnya pohon beringin, telah berdiri pohon-pohon lainnya yang membuat taman ini menjadi tempat berkumpulnya mahasiswa, baik sekedar ngobrol maupun “ngobrol” :p
Disebut dengan Taman Cinta katanya, apakah taman ini banyak menghasilkan cinta bagi para pengunjungnya, ataukah taman yang ingin dicinta dalam arti dirawat seperti tujuan dia dibangun, tidak dibiarkan kotor dan terbengkalai. Di taman ini terdapat kolam pas terletak lurus di depan Villa Isola, kolam yang ada air mancurnya, yang ditengahnya ada patung yang masih bisa kita lihat sampai sekarang. Patung apakah itu? Ga tau, seperti patung cupid atau dewa-dewa Yunani itu, tapi ini patung  Apapaun namanya, taman ini membuat siapapun yang mengunjunginya betah disana. Kami contohnya, taman ini bisa menahan kami dari pagi hingga sore, kalau bukan karena suara cacing-cacing di dalam perut kami, tidak akan kami tinggalkan suasana rindang dengan semilir anginnya yang melenakan setiap manusia ^^.
Nah, dari sisi misterinya, ada beberapa hestek yang dari dulu sampai sekarang rame dibicarakan mengenai Villa Isola ini, diantaranya adalah adanya lorong rahasia di bawah tanah (nama nya juga rahasia, masak di atas tanah, kliatan dooonk >.<), cerita hantu cewek bunuh diri sama adanya penampakan bule lagi dansa di lantai atas. Urban legend neh, hehe. Soal lorong bawah tanah, banyak sumber yang mengkonfirmasi memang ada, bahkan sampai sekarang, pertanyaannya bukan ada engganya lorong itu, tapi kemanakah ujungnya? Kang Pri, sebagai rujukan utama tulisan ini konon pernah masuk ke lorong tersebut, tapi ga sampai tuntas karena gelapnya ngujubile, plus lorong itu masih turun ke bawah lagi katanya. Ada yang bilang sampai ke Dago Pakar (gua Belanda donk ^^), ada yang bilang ke Lembang dan lain-lain. Tapi umumnya, kalau kita menyimak gedung-gedung tua peninggalan kolonial di Indonesia biasanya ada gosip tentang lorong rahasia itu (Belanda demen banget bikin lorong, biar gampang kalau kabur jika sewaktu-waktu diserang pribumi), contohnya lorong rahasia di bawah Istana Merdeka, Museum Fatahilah, Istana Bogor dan lain-lain. Masalahnya, gedung-gedung penting itu merupakan wilayah terlarang bagi kita kaum rakyat jelata, jadi yang mau ngupas kebenarannya mentok disitu.
Soal perempuan yang bunuh diri, konon itu adalah Anna, salah satu dari tiga anak Berrety, sedangkan bule yang lagi dansa adalah Berrety sendiri, yang merasa belum puas nikmati istana barunya, karena baru setahun ditempati keburu wafat..(tapi Berrety kan matinya di Irak, masa iya bisa nyebrang kesini rohnya? Emang inget jalannya? Ga nyasar apa?? :p). urban legend seperti ini memang menarik disimak, bukan apa-apa, sebagai bumbu penyedap cerita saja, biar wibawa gedung itu tetap ada, seperti halnya tidak menarik menceritakan Tangkuban Prahu tanpa cerita Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Informasi lebih lengkap beserta foto-foto awal berdirinya Villa Isola dapat dillihat di djawatempodoeloe.multiply.com miliknya kang Pri.
Dari sini kita kembali ke MABES MPK di Dipati Ukur, caranya, ambil angkot dari seberang, jurusan Cicaheum-Ledeng (lagi-lagi), naiklah dan turunlah di manapun ketika kawan-kawan bisa melihat angkot jurusan Cicaheum-Ciroyom. Kalian bisa melihat angkot ini mulai dari Jalan Cihampelas sampai dengan pertigaan Gandok (Ciumbuleuit) menuju Siliwangi. Kalau udah bisa melihat angkot ini, turunlah dari angkot tadi, lalu lanjutkan perjalanan dengan angkot 07 (Cicaheum – Ciroyom) dan turun di Dipati Ukur. Tarifnya, untuk Cicaheum – Ledeng Rp. 2.500 sedangkan untuk Cicaheum – Ciroyom Rp. 1.500.
Capek perjalanan, kami istirahat dulu, untuk kemudian kita lanjutkan lagi nanti...salam-salam ^^

1 comments:

Ogi Wahyudi January 22, 2015 at 2:45 PM  

mantap ceritanyaa (y)

Post a Comment

Indonesia Barat